Tentang Diriku
Beberapa saat yang lalu aku merasa terharu sekali pada diriku sendiri. Betapa aku bisa sejauh itu menekan perasaanku, agar melihat orang yang kucintai mendapatkan kebahagiaannya. Rasanya agak menyakitkan memang, saat harus mengatakan 'ya' padahal sebetulnya aku tak ingin itu. Aku benar-benar mementingkan perasaan orang lain diatas aku. Entah harus bangga atau tidak, tetapi aku rasa ada baiknya begitu karena aku tidak tumbuh menjadi pribadi yang egois. Aku mendengarkan keluhan orang-orang, tetap berpegang teguh pada pikiran positif tentang mereka, berhati-hati dalam mempercayai seseorang, dan bersikap hangat kepada siapapun. Kadang memang ada saatnya aku tidak puas. Aku lelah untuk 'mengalah', sewaktu-waktu pun aku ingin menang dan mengucapkan terima kasih kepada orang yang mau berbahagia karena hal yang aku sukai, tetapi aku justru sering berlaku kebalikannya. Aku sabar menantikan kebaikan orang itu, dan menantikan dia bertanya tentangku padahal semua yang ingin kukatakan sudah percis berada diujung bibirku. Pertahananku tak pernah goyah hingga sampai pada puncak dimana aku harus menangisinya sendiri atau memarahinya karena aku tak sanggup menahannya lagi dalam waktu yang lebih lama.
Aku akan sangat bersyukur apabila seseorang menanyakan apa mimpiku, kegiatan apa yang kusukai, membiarkan aku melakukan hal yang membuatku meluapkan emosiku, berjalan di antara hujan, menyanyikan lagu kesukaanku, dan tertawa saat bernostalgia dengan ceritaku. Aku rindu saat itu. Aku rindu membicarakan diriku kepada dunia.
Comments
Post a Comment