Mengerti Menjadi Dewasa (?) Part II
Andai waktu bisa berputar, aku ingin melihat kembali segala proses yang telah aku lewati dari aku lahir di Bumi, mulai menangis, kemudian mulai merangkak, berjalan, dan berbicara. Aku merindukan diriku yang kecil yang pertama kalinya masuk sekolah dan merasa insecure. Aku merindukan diriku yang akhirnya menemukan sahabat pertama kalinya, mulai mengalami perdebatan dengan teman dan melalui rasa suka dengan lawan jenis.
Aku merindukan saat dulu aku tertawa dengan lebar bersama sahabat-sahabatku, aktif mengikuti kegiatan di luar rumah, mersakan menjadi remaja yang sering bertengkar dengan orang tua, rindu menjahili teman dan guru di sekolah, harus masuk ke ruang BK karena nilai yang jelek, rindu diejek teman-teman karena ada yang naksir...
Aku juga masih ingat dimanaa dulu aku sekolah, pertama kalinya aku mendapatkan nilai yang bagus, pertama kalinya mendapat pujian dari guruku, mendapatkan surprise ulang tahun, ataupun moment minum expresso bersama teman-teman sampai malamnya tidak bisa tidur. Aku ingin melihat kembali semua moment pertumbuhanku sedari kecil hingga saat ini.
Ketika akhirnya aku harus meninggalkan seragam sekolahku, dan mulai serius mencari bidang yang cocok dengan minat dan bakatku, yang kelak akan kugunakan ilmunya untuk mencari nafkah. Aku terus membesar, aku mulai kehilangan teman dan sahabat. Aku mulai merasakan perubahan yang selama ini hanya aku dengar dari orang-orang tua. Ketika aku ingin mengulangi kenangan lama, rasanya itu tidak akan mungkin terjadi.
Namun lagi-lagi aku menemukan celah syukur dengan sendirinya. Saat aku mulai termenung sendirian meratapi layar gawaiku, berjam-jam membaca kembali setiap cerita yang pernah aku tuliskan disini. Banyak kenangan yang sudah aku lalui semasa hidupku ini. Aku kembali tertawa sekaligus terharu, melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa aku sudah bertumbuh.
Aku yang tadinya kecil, aku yang tadinya terlalu cengeng dan manja, sekarang sudah bisa menjadi sosok yang bisa dibanggakan. Minimal aku sudah bangga dengan diriku sendiri saat ini. Banyak orang yang berperan penting dalam kehidupanku, tetapi sebetulnya semuanya itu kembali pada diriku.
Seseorang tidak akan bisa menjadi hebat, kalau tidak memiliki rasa yang kuat dalam dirinya untuk berubah, menerima perubahan itu dan belajar serta darinya, memetik kebaikan dari setiap pengalaman dan memaafkan segala hal menyakitkan di masa lalu dan membiarkannya berlalu.
Kehidupan begitu cepat berubah dan berganti. Kita seharusnya menjadi semakin pandai dalam menyembuhkan rasa kesepian diri. Berangsur-angsur ketika aku mulai menerimanya, perasaan itu akan membaur dan membuat rasa duka menjadi suka. Akhirnya aku mengerti. Akhirnya aku bisa memahami diriku dan kecemasan yang aku rasakan.
Comments
Post a Comment