HARI
Pagi ini aku melangkah perlahan,
Keluar dari rumah yang dicat serba putih,
Cuaca yang cerah membuatku semakin bersemangat,
dan melupakan bahwa sebelumnya sudah mengalami sakit.
Aku memang idealis.
Tetapi tidak sejak dulu, baru ini aku tahu.
Aku lumayan sering menekan diriku sendiri supaya bertindak sempurna,
Walaupun tuntutannya menyiksaku.
Meskipun saat kelelahan aku baru bisa menyadari bahwa tak mungkin tubuh ringkih ini bisa melegakan hati semua orang,
Mengikuti semua perintah tanpa berpikir dua kali.
Waktu menunjukkan pukul 2 siang.
Ini adalah waktu yang tepat untuk beranjak dari sini.
Tetapi aku menunggu, hingga semakin sepi suasananya.
Berbasa-basilah sedikit dengan sesama,
Lupakan sejenak prinsip "teng-go"
Setelah cukup dan merasa tidak ada lagi bahan untuk dibicarakan,
Aku berjalan pulang.
Panas. Itu yang kurasakan saat keluar dari gedung.
Banyak tukang ojek online yang menghalangi trotoar,
Yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki.
Sudah 2 tahun begini dibiarkan saja berlalu..
Raut wajah yang berubah menjadi sinis,
Tak bisa kusembunyikan lagi.
Namun perut yang lapar mengalihkan perhatian,
Aku pun kembali dengan kantung plastik berisi lauk.
Aku kembali berjalan dan seketika terhibur karena melihat langit yang biru,
Tidak ada banyak awan, tapi hanya langit yang cerah sehabis hujan.
Aku tersenyum memandang ke atas.
Hiburan gratis dan menyenangkan..
Namun perasaanku ternyata mudah berubah. Hati yang dipenuhi senang akhirnya kembali kesepian.
Hanya dinding yang sedia mendengarkan,
Para penyanyi yang melantunkan nada dari pemutar musik yang sedikit menghibur,
Juga serial drama Korea yang membuat perhatianku teralihkan beberapa saat.
Aku ingin terlelap,
Tanpa harus banyak berpikir banyak.
Aku hanya kelelahan dan ingin benar-benar menikmati hujan dengan penuh syukur,
atau bangun pagi dengan melihat matahari terbit.
Hal-hal sederhana yang tak perlu banyak argumen dan pertimbangan.
Kecil tapi ternilai dan bertahan lama,
Mengisi hati yang haus & merindu.
Comments
Post a Comment