Terjebak
Tanpa kata aku menatap, dengan sayu aku melihat betapa besarnya keinginan dia membahagiakan semua orang kesayangannya.
Sungguh, aku sangat menghargai hal itu. Namun apakah dia mampu memahami bahwa tak semua yang dirasakannya itu tepat dan tak semua yang dipikirnya itu mampu mewakili keinginan hati orang lain.
Aku dengan segala kekuranganku, seringkali berargumen sendiri. Bagaimana caraku untuk bisa menyampaikan opiniku dengan kata yang lugas dan tegas. Berkali-kali orang berkata bahwa aku tak pandai berkomunikasi, tentu bukan karena aku tak mampu, tapi karena aku terlalu menutup diriku dari dunia luar yang bahkan tak pernah aku coba untuk membukanya sendiri.
Terlalu banyak ketakutan yang menahanku untuk pergi dari zona nyaman ini. Aku selalu merasa kosong bahkan disaat banyak orang disekelilingku dengan begitu perhatian dan menaruh kasih sayang tulus padaku. Apa hanya aku makhluk yang tidak pandai bersyukur?
Rasanya sudah berulang kali aku terjebak dengan situasi ini tanpa aku benar-benar memahami penyebabnya. Aku tidak mau terbawa dengan suasana ini sepanjang hidupku. Aku ingin menjadi sesuatu yang berharga, namun tak tahu bagimana memulai atau mengakhirinya?
Comments
Post a Comment