Berhenti

    Saya adalah seorang pemotor. Bisa dibilang, motor adalah kaki saya. Karena hampir setiap hari menggunakannya sebagai transportasi utama ketika berpergian. Jarak antara rumah ke kantor kurang lebih 18 kilometer (satu kali perjalanan) dan jika dijumlahkan pulang pergi menjadi 36 kilometer. Saya mengendarai motor sendiri dengan kecepatan 40 km/jam atau paling kencang 80 km/jam, waktu perjalanan pun cukup lama ya sekitar 40-45 menit atau jika lalu lintas tidak terlalu padat, bisa hanya memakan waktu 30 menit.

    Suatu ketika pernah, saat cuaca hujan. Saya memacu motor saya dengan kecepatan 60-80km/jam, karena saya menghindari hujan. "Di depan sedang lampu hijau! Saya akan berhasil melewati ini jika kecepatan saya bertambah" pikir saya. Namun, sudah jelas jalanan licin dan ada mobil di depan saya yang melambat, maka saya menggunakan rem tangan lalu akhirnya terpeleset. Kaget. Saya terjatuh dan terluka dibagian siku juga memar di daerah paha. Tapi ada dua orang yang menolong saya, salah satunya orang berbaju badut yang sigap dan menanyakan apakah saya menabrak dan saya dengan sadar menjawab "Tidak, terima kasih Pak", lalu dengan keadaan setengah kaget, setengah kesakitan, melanjutkan perjalanan. Saya yang tadinya menghindari hujan, basah kuyup dengan sempurna.

    Namun sebenarnya hal itu bukan yang pertama kalinya. Saya sudah beberapa kali terjatuh dari motor. 2x di persimpangan lampu merah, 2x di dekat rumah, dan 2x di persimpangan lain. Selain itu saya juga pernah ditabrak oleh pengendara lain saat di lampu merah, ataupun terjatuh karena jalanan licin. Pengalaman terjatuh itu membuat saya jadi terbiasa. Sampai yang terakhir kalinya membuat saya berpikir "ini semua salah saya yang tidak mau sabar."

    Bisa dibilang saya selalu tergesa-gesa saat berkendara, bahkan sampai punya prinsip "Dilarang Berhenti". Kalaupun lampu merah pasti akan ada jalan pintas lain yang membuat saya harus terus melanjutkan perjalanan tanpa henti. Hal ini yang membuat saya menjadi lelah dan sulit konsentasi di jalan, membuat saya celaka. Padahal jika tak ingin terlambat, bisa saja saya datang lebih awal. Jika hujan bisa saja berhenti dan gunakan mantol. Jika lampu merah, tidak perlu mengambil jalan memutar sehingga saya bisa memperhatikan sekitar. Berhenti sejenak bukan berarti diam selamanya. 

    Saya harus  terus belajar untuk bisa mengenali diri lebih baik. Saya yang berapi-api, tidak sabaran, penuh emosi, harus diimbangi dengan diam mengambil jeda, hening dan berhenti sejenak. Jika tidak, saya bisa mati karena ulah diri saya sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Anabul

Kuatlah!