Cerita Menikah
Saat menikah, tentu banyak orang yang mendoakan kebaikan untuk keluarga kecil kami yang baru. Doanya terutama tentang agar cepat dikaruniai momongan. Saat itu kami tentu bergirang hati, mengamini semua ucapan dan doa dari sanak saudara dan rekan yang menjadi saksi perjalanan kisah cinta kami selama ini.
Namun lambat laun, ucapan itu terdengar sangat menjengkelkan. Terutama ketika pernikahan kami sudah berjalan beberapa tahun, namun tak kunjung dikaruniai. Bukan menolak untuk punya. Bukan tidak berusaha, namun ternyata tak semudah itu untuk bisa memiliki keturunan. Banyak hal yg perlu dipersiapkan ; mental, keuangan, waktu, dan banyak hal lain yang menuntut tanggung jawab ketika menjadi seorang Ibu & Ayah sehingga bisa disebut orang tua.
"Keluarga bahagia adalah keluarga yg mempunyai anak" sepertinya pandangan yang masih sangat melekat, sehingga akhirnya memberikan tekanan pada pasangan muda untuk cepat & segera memiliki anak. Tuntutan ini jg sangat besar terutama kepada pihak wanita, dan hal itu sangat membuat ketidaknyamanan.
Beberapa rekan/saudara yg lama tak bertemu, bukan lagi hanya menanyakan kabar, tapi melihat perubahan bentuk tubuh apakah lebih kurus/lebih gemuk, wajah yg makin berseri atau bertekstur, lalu pertanyaan berikutnya "sudah isi?". Tak puas dengan jawaban belum, akhirnya mengancam dengan kalimat "nanti kalau bertemu lagi harus sudah isi ya........" Seolah itu adalah sebuah perintah yg menekan. Membuat berpikir keras dan malas saat nantinya harus bertemu lagi dilain waktu.
Lain lagi tetangga. Beberapa orang hanya menyukai peran istri yang beranak. Sehingga jika hanya ada istri tanpa anak, sepertinya tidak relate dengan kehidupan mereka sehingga tidak cocok bergaul. Kehidupan seperti ini sungguh kebiasaan yg buruk, tidak pernah ada yg menyadari bahwa hal tersebut bisa mengucilkan orang lain. Mereka tidak pernah menyadari bagaimana perasaan yg sesungguhnya dirasakan orang yang terkucilkan karena kalimat-kalimat mematikan itu.
Mencoba berfikir positif, memang tidak semua omongan orang benar dan bisa didiamkan begitu saja. Lagi-lagi hanya bisa mengontrol diri, mewaraskan diri sendiri, sehingga tidak terhanyut dalam pikiran yg rendah dan tertekan.
Kalau Anda membaca ini, semoga bisa lebih berempati setidaknya sedikit saja.
Comments
Post a Comment