JURNAL DIRI
Saya baru sadar bahwa, saya hanya selalu merasa ketakutan. Saya takut tidak lagi didibutuhkan, tidak lagi dianggap, tidak lagi menjadi penting bagi orang-orang yang selama ini saya cintai. Saya begitu menggantungkan hidup saya sepenuhnya pada orang di sekeliling saya, sehingga pada akhirnya saya memaksa mereka untuk tetap tinggal disini, padahal sebetulnya mereka sudah tidak bisa lagi disini. Mereka juga punya mimpi, mereka punya hal-hal yang mereka inginkan, mereka punya kehidupan lain yang di dalamnya bukan hanya ada saya.
Saya betul-betul takut dilupakan dan dibuang. Saya selalu mementingkan ego diri sendiri, sehingga saya telah mengkesampingkan kebahagiaan orang yang saya cintai. Saya pikir dengan hadirnya diri saya itu sudah cukup. Ternyata tidak semua hal semudah itu, dan tidak semua hal perlu ada saya. Setiap harinya ada jiwa yang harus dihidupi, setiap harinya ada orang lain yang juga berjuang dengan cara mereka masing-masing untuk bisa bahagia juga. Setiap hari ada rasa yang harus direlakan, sama seperti perasaan yang sering menghantui dan mencemaskan saya.
Rasanya begitu menyedihkan, ketika kenyataan yang pahit menampar diri sendiri. Sakit sekali begitu bisa mengakui semua perasaan buruk yang selama ini membelenggu diri sendiri. Namun saat mampu menyadarinya, saya menjadi sedikit lebih berani menghadapi kenyataan dunia ini. Saya tidak pernah benar-benar ingin menjadi "beban" yang membuat orang lain risih dan semakin ingin menjauh. Saya mau lebih mengikhlaskan segala sesuatunya dan menerima segala sesuatunya.
Saya menyadari bahwa menjadi dewasa bukan berarti selalu kesepian, tetapi memang dengan keheningan, saya bisa berkomunikasi lebih dalam dengan diri saya, meskipun butuh waktu yang sangat lama, tetapi dengan melewati proses inilah saya dibentuk. Air mata keputusasaan yang dulu melumpuhkan semangat dan juang saya, kini lebih menjadi kebanggan diri bahwa saya sudah mengambil langkah yang tepat untuk diam sejenak, beranjak dari kepenatan dan memperbaiki kesalahan saya.
Sebetulnya saya belum sepenuhnya sadar, karena saya masih terikat dan terpengaruh banyak hal luar yang akhirnya kembali menarik diri saya ke dalam jurang kesepian yang dalam. Tapi setidaknya sekarang saya bisa menjawab hal-hal yang membuat hati saya menjadi goyah, dan saat itu datang lagi, saya bisa kembali kesini untuk mengingatnya.
Saya hanya perlu mengingat segala kebaikan yang telah dilakukan orang terdekat saya. Mereka selalu menyemangati, memberi affirmasi positif, mendukung, menasihati, menyatakan cinta, memerhatikan, memberikan pelayanan, memberikan hadiah, menyanyikan lagu, mendengarkan cerita, memeluk, menanyakan kabar, memberi masakan, dan masih banyak hal lagi yang telah mereka lakukan, dengan wujud rupa yang berbeda-beda setiap hari!
TERIMA KASIH, hanya itu kata yang mampu saya ucapkan atas hadirnya diri kalian. Maafkan aku atas segala keegoisan dan kebodohanku sehingga kebaikan yang tulus, terhalang. Sekali lagi terima kasih tetap ada disisiku, baik jauh ataupun dekat, pernah dekat atau pernah singgah, pun yang sekarang sudah sangat berjarak, terima kasih.
Comments
Post a Comment