Teman Dewasa

Sebenernya aku rasa, saat kita mulai beranjak dewasa, sangat beruntung sekali jika kita punya seorang teman yang mau mendengarkan dengan tulus segala perasaan, keluh kesah, dan uneg-uneg kita. 

Teman yang tanpa judging, tidak penah mencap apa yang kita ceritakan, tidak juga merasa hal itu mungkin sesuatu yang sepele, atau tidak juga mengabaikan apa yang menjadi RASA kita saat ini. 

Sulit loh, menghadapi dunia yang begitu keras dan dingin seperti sekarang. Lebih sulit lagi kalau kita malah dihantui rasa kesepian, dan gak ada tempat bersandar sama sekali. Pasti rasanya akan semakin berat jika apa yang kita rasakan hanya dianggap sebagai angin lalu, atau dianggap remeh. Perasaan itu lama-lama kelamaan akan membentuk perasaan negatif  di dalam diri kita.

Beruntung jika aku punya teman itu. Bukan perihal agar selalu dibela, tetapi dukungan dari seorang manusia saja, bisa memberikan kekuatan yang tanpa batas. Membuat kita bisa melihat hari yang baik, dan menaruh harapan baru untuk hari yang lebih cerah, esok atau kemudian hari. 

Menjadi pendengar memang tidak mudah, biasanya orang tidak sabar untuk menimpal, memberi saran yang tidak diperlukan, mencoba melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan. Orang yang biasanya melakukan itu karena sudah tidak mau lagi mendengarkan. 

Padahal, rasanya sangat menenangkan jika bisa mengungkapkan semua beban yang ada dipikiran dan hati, tanpa perlu dibuat-buat, apa adanya. Apalagi sekarang kejujuran semakin sulit dicari. Perasaan pun akan selalu berubah, dan tidak pernah ada perasaan yang benar-benar menetap. 

Aku hanya bisa berharap kebahagiaan dan ketenangan akan selalu ada menjadi teman baikku.

Comments

Popular posts from this blog

Anabul

Kuatlah!