Posts

Marah

Aku kesal.  Aku jenuh.  Aku bosan.  Aku merasa gak didengar.  Aku merasa gak diperlukan.  Aku hanya diminta menunggu,  Tanpa kepastian.  Aku tidak boleh mengeluh,  Aku tidak boleh marah,  Aku tidak boleh mencari kesenangan sendiri juga.  Aku kesepian.  Banyak yang ingin aku ceritakan,  Banyak juga hal yang terjadi hari ini.  Aku juga ingin bicara,  Aku juga ingin didengarkan,  Aku juga ingin mengadu,  Aku ingin meluapkan semua emosi yang ada.  Aku tidak melarang untuk diriku sendiri,  Tapi aku justru selalu batasi diriku dengan banyak hal.  Aku selalu merasa dikurung,  Tak bebas,  Tertekan,  Terpaksa. 

HARI

Pagi ini aku melangkah perlahan,  Keluar dari rumah yang dicat serba putih,  Cuaca yang cerah membuatku semakin bersemangat,  dan melupakan  bahwa sebelumnya sudah mengalami sakit.  Aku memang idealis.  Tetapi tidak sejak dulu, baru ini aku tahu.  Aku lumayan sering menekan diriku sendiri supaya bertindak sempurna,  Walaupun tuntutannya menyiksaku.  Meskipun saat kelelahan aku baru bisa menyadari bahwa tak mungkin tubuh ringkih ini bisa melegakan hati semua orang,  Mengikuti semua perintah tanpa berpikir dua kali.  Waktu menunjukkan pukul 2 siang.  Ini adalah waktu yang tepat untuk beranjak dari sini.  Tetapi aku menunggu, hingga semakin sepi suasananya.  Berbasa-basilah sedikit dengan sesama,  Lupakan sejenak prinsip "teng- go "   Setelah cukup dan merasa tidak ada lagi bahan untuk dibicarakan,  Aku berjalan pulang.  Panas. Itu yang kurasakan saat keluar dari gedung.  Banyak tukang ojek ...

Lelaki Baik

Aku tahu seorang lelaki baik, dia selalu menjagaku dari dulu hingga saat ini. Aku selalu diberikan cinta yang penuh. Ia tidak pernah membiarkan aku menangis tersedu-sedu, selalu menenangkanku dengan peluknya yang hangat. Lelaki baik itu selalu mendengarkan semua ceritaku, baik yang penting dan tidak penting. Selalu menanyakan kabarku, dan menantikan kepulanganku ke rumah. Lelaki baik yang tak pernah membiarkan orang lain menyakitiku. Sosok lelaki baik ini selalu sabar, menjagaku adalah tugas utamanya, memenuhi kebutuhanku adalah pelengkap dari tugasnya. Ia tak pernah meminta hal yang sulit bagiku, tapi selalu mendukung setiap keputusanku. Bahkan untuk mencintai lelaki selain dirinya. Papa, kalau aku sudah berbuat nakal, tolong maafkan aku. semoga aku selalu bisa menjadi putrimu yg kau cintai. selalu.

Kenapa ?

Egoisnya para manusia ini. Kenapa sih semakin hari mereka makin meninggikan egonya. Satunya bilang A yang lain bilang B. Mereka sama-sama punya perasaan yang ga tersampaikan tapi bukannya diselesaikan malah dibiarkan berlarut-larut. Jeleknya nanti akan terbawa penyesalan itu sampai tua. Sampai mati malah. Kenapa sih para orang ini gak berusaha untuk keluar dari zona yang ga nyaman ini. Bukannya mencari jalan tengah, duduk berdua dan berdiskusi tapi malah yang dilakukan adalah menghindar dan saling mencari pembelaan saat salah satunya ga ada. Capek banget yah lihatnya. Selalu ada jarak antara Ibu & anak yang semakin hari semakin sengit. Bahkan sekarang udah ga ada lagi obrolan santai saling memuji atau sekedar berbagi resep, yang diingat hanya masa lalu dan semua hal yang sudah terjadi lampau, memendam rasa kebencian dan kekesalan terus menerus sampai hati membuat diri terluka.

Kembali Pulang

Hari ini aku bahagia sekali. Bahagiaku sederhana, semua karena aku bisa berjalan berdua dengan kamu, memeluk kamu dari belakang tatkala kita menaiki motor berplat nomer "AD" dengan rintik rintik hujan yang membasahi kota Bogor.  Indah sekali setiap perbincangan kita hari ini. Dimulai dari makan bersama di rumah makan Sunda, lalu berlanjut minum kopi yang disajikan bersama karamel yang menjadikannya manis, kita bercerita dari hal yang aku tak mengerti jadi mengerti. Berhadapan dengan laptop masing-masing karena mengerjakan pekerjaan kantor tetapi lalu keadaan menjadi cair ketika tatapan mata kita saling beradu, mulai tertawa bersama dan berceloteh dari yang lucu, mistis, syukur, haru, dan mengesalkan. Aku menemukan titik dimana hati kita yang dulu saling jatuh cinta kini kembali merasakan hal yang sama.  Jujur aku rindu moment seperti itu. Aku rindu suaramu yang pelan tapi berat. Ceritamu selalu mampu mengembangkan imajinasiku menjadi terbawa suasana. Candamu yang kadang me...

Resolusi 2019

Halo 2019 ! Tidak terasa banyak hal yang sudah dicapai ditahun sebelumnya, kebahagiaan, kesukaan, dan lain sebagainya. Kalo boleh flashback sedikit... Kesedihan terdalam yang aku alami sepanjang tahun 2018 adalah kehilangan Opa aku di bulan April. Opa ku tuh deket sama aku, beliau selalu nasehatin aku selalu care sama aku sampai pas aku KKN, Opa ikut nganter ke Sukabumi. Banyak hal yang bikin aku ga cepet terima setelah kehilangannya. Tapi disamping itu juga, aku dapat kebahagiaan yang luar biasa besar, setelah bertahan dari setiap pencobaan. Tuhan kasih aku hadiah yang besar.  Hal yang paling membahagiakan aku tahun 2018 adalah aku bisa lulus cumlaude . Di umur yang masih muda, aku sudah punya gelar sarjana plus langsung dapat kerja di salah satu sekolah terkenal di kota Bogor.  Tuhan selalu punya rencana baik. Aku selalu percaya itu. Hari-hari yang penuh dengan kepenatan akan terbayar saat aku sudah mampu bertanggung jawab atas diriku sendiri, atas kehidupanku. Tu...

Cita-citaku : Ibu

Jadi Ibu itu tidak mudah. Betul sekali. Setiap hari harus bangun pagi, mengurus semua kebutuhan anggota keluarga. Dari bekal, sarapan, seragam, kebersihan rumah, belum lagi setumpuk cucian kotor di dapur dan kamar mandi. Ibu rumah tangga bekerja 24jam/hari.  Kalau jadi Ibu yang berkarir juga sama. Selain dipusingkan oleh kebutuhan di rumah, ada tuntutan di tempat kerja, pulang kerja sudah harus kembali mengurus keluarga. Belum PR anak, makan malam, cek semua tagihan bulanan, cek keadaan semua anggota keluarga supaya tidak ada yang sakit, supaya tetap harmonis dan terjaga komunikasinya, supaya tetap hangat.  Ibu benar benar jantung keluarga, yang harus tahu segalanya. Segala-galanya. Waktu kecil, aku ingin menjadi ibu. Sampai saat ini pun masih ingin menjadi ibu. Tetapi akan jadi ibu seperti apa aku nantinya, aku juga tidak tahu.  Aku belajar dari mama, oma, tante, guru bahkan tetanggaku semua. Aku melihat, mendengar, menganalisis dan merancang masa depanku nanti ...