Posts

JURNAL DIRI

Saya baru sadar bahwa, saya hanya selalu merasa ketakutan . Saya takut tidak lagi didibutuhkan, tidak lagi dianggap, tidak lagi menjadi penting bagi orang-orang yang selama ini saya cintai. Saya begitu menggantungkan hidup saya sepenuhnya pada orang di sekeliling saya, sehingga pada akhirnya saya memaksa mereka untuk tetap tinggal disini, padahal sebetulnya mereka sudah tidak bisa lagi disini. Mereka juga punya mimpi, mereka punya hal-hal yang mereka inginkan, mereka punya kehidupan lain yang di dalamnya bukan hanya ada saya.  Saya betul-betul takut dilupakan dan dibuang . Saya selalu mementingkan ego diri sendiri, sehingga saya telah mengkesampingkan kebahagiaan orang yang saya cintai. Saya pikir dengan hadirnya diri saya itu sudah cukup. Ternyata tidak semua hal semudah itu, dan tidak semua hal perlu ada saya. Setiap harinya ada jiwa yang harus dihidupi, setiap harinya ada orang lain yang juga berjuang dengan cara mereka masing-masing untuk bisa bahagia juga. Setiap hari ada ...
Keadaan dimana-mana kian memburuk. Berita di sosial media yang terkuak dengan begitu frontal, tanpa ada lagi sensor, semua orang bisa mengakses dengan mudah.  Tentu saja membuat takut, khawatir, cemas, dan perasaan tidak nyaman lainnya.  Ketika sebagian orang memilih untuk hanya diam, dan sebagian orang memilih untuk bersuara demi perbaikan.  semua itu memang tentang pilihan. Disisi lain, ditengah kemelut keadaan yang kian memanas,  sebagian orang harus tetap mencari nafkah. Berdesak-desakan dalam transportasi umum, berkeringat di bawah teriknya matahari yang menyengat, bertahan di posisi sulit yang terhimpit dari atas dan bawah. Semua orang mulai beradu nasib. Ada yang menjadi marah, ada yang menjadi lemah, ada yang menjadi semakin menggebu-gebu. Setiap orang punya jalannya masing-masing untuk mengekspresikan keadaannya.  Mengapa tingkat kesejahteraan kian menurun dan tingkat stress semakin meningkat? Mengapa banyak manusia memilih tinggal di zona nyaman dan ta...
Beberapa waktu lalu diskusi mantab terjadi. Ruang tengah yang terang, namun udaranya panas. Satu pihak mengungkapkan keinginan yang baik, namun merugikan pihak lainnya. Tapi hal ini harus dilakukan, karena disitulah kehidupan dapat berlangsung. Pihak yang dirugikan tak tahu apa yang harus diperbuat ataupun katakan, Selalu semuanya akan menjadi diskusi yang alot dan akhirnya tak menemukan solusi apapun. Tapi saat dia berani angkat bicara, Semua pemikiran dan kecemasan tertumpah ruah, Pihak satu akhirnya memahami sebetulnya masalah bukan ada pada dirinya, namun lawan bicaranya. Mereka pun saling melunak, menemukan jalan keluar yang menenangkan kedua pihak tersebutπŸ€—

Rel Kereta

Hari itu suasananya ramai, Banyak orang berseragam, tergesa-gesa di perjalanan. Tak jarang terdengar suara klakson, Juga beberapa kendaraan saling bertubrukan ringan, Rem gas rem gas, Suara tukang parkir yang berusaha mengatur padatnya lalu lintas. Tak lama itu, terdengar bunyi ting nung ting nung ting nung dengan cepat Artinya palang jalan akan ditutup, Kereta akan segera lewat. Namun bukannya menyingkir, beberapa orang malah menerobos dengan cepat Tak jarang juga yang tersangkut di antara celah rel, Membuat panik! Pasti akan histeris orang yang melihatnya. Mengapa mereka begitu tak sabar? Hingga harus memacu kendaraan dengan cepat dan membunyikan klakson berisik Kapan terakhir kali kita menikmati perjalanan kita dengan tenang? Pagi yang begitu semerawut.

Anabul

Kala itu ... terasa sepi saat berada di rumah yang kosong ini.  namun sejak hadirnya hewan berbulu putih,  aku tak lagi merasa kesepian. ekornya selalu dikibaskan saat melihatku datang memanggil namanya, mengajarinya bersalaman, melompat, bahkan menggonggong, dia selalu ingin tidur di bawah kakiku, meminta perlindungan saat dimarahi menungguku pulang atau menyelesaikan pekerjaan rumah. hewan berbulu yang paling ramah dan setia pernah saat aku menangis atau kesakitan, dia menyadarinya dan menghibur dengan mencium atau bahkan memeluk satu-satunya makhluk yang pengertian tanpa harus mengerti bahasanya anabul putih kesayanganku, bayiku, temanku...

Fase Hidup Untuk Saat Ini

 Sekarang saya ada di fase HIDUP UNTUK SAAT INI. Berbekal dari perjalanan hidup yang penuh liku, rasanya bohong jika tidak pernah mengalami kebimbangan, kekecewaan atau perasaan sendirian. Keraguan, kecemasan, ketakutan dan perasaan yang berkecamuk menjadi satu dalam waktu yang bersamaan. Rasanya penuh dan sesak. Tetapi hampir setahun ini saya merasa damai. Saya merasakan adanya pertumbuhan dalam diri saya yaitu kedewasaan dalam berpikir dan berperilaku. Semua pengalaman yang lalu, membawa saya menjadi pembelajar yang tangguh dan kuat. Membuat saya semakin percaya akan kekuatan dalam diri, kontrol utama semua berpusat pada diri kita sendiri.  Menyenangkan sekali rasanya bisa menikmati setiap moment yang ada di depan mata, hidup untuk saat ini. Lalu dengan sedikit kebijaksanaan mulai melepaskan semuanya itu dalam kenangan yang indah. Berbahagia secukupnya, bersedih secukupnya, marah secukupnya. Seperti halnya anak kecil yang bertengkar dengan seorang teman, lalu keesokan hariny...

Sebuah Kemungkinan

Kalau diperhatikan, setiap orang pasti punya permasalahan hidupnya masing-masing yang tak sama satu dengan yang lainnya bukan? Setiap kita mau tidak mau dituntut untuk bisa mengatasi masalah itu, entah bagaimanapun caranya.  Ada orang yang bermasalah dalam pekerjaannya, pendidikannya, rumah tangganya, kariernya, percintaannya dan lain lain sebagainya. Jika diruntutkan mungkin akan terlihat sangat banyak dan menyesakkan satu dengan yang lain. Tapi pernahkah ada terpikir mengapa saya? Mungkin karena memang Anda yang dipercayai untuk menanggung tanggung jawab itu. Anda memang sejak awal diciptakan untuk bisa melewati segala tantangan hidup itu, dan diyakini bisa bertanggung jawab menghadapinya. Mungkin semesta ingin mengajarkan sesuatu pada Anda, tentang arti kehidupan yang berbeda dari yang lain. Semesta ingin Anda bisa melihat dari kacamata yang tak biasa, sehingga bisa menjadi semacam kesaksian kebenaran yang ditunjukkan lewat diri Anda.