Posts

Terjebak

 Tanpa kata aku menatap, dengan sayu aku melihat betapa besarnya keinginan dia membahagiakan semua orang kesayangannya.  Sungguh, aku sangat menghargai hal itu. Namun apakah dia mampu memahami bahwa tak semua yang dirasakannya itu tepat dan tak semua yang dipikirnya itu mampu mewakili keinginan hati orang lain. Aku dengan segala kekuranganku, seringkali berargumen sendiri. Bagaimana caraku untuk bisa menyampaikan opiniku dengan kata yang lugas dan tegas. Berkali-kali orang berkata bahwa aku tak pandai berkomunikasi, tentu bukan karena aku tak mampu, tapi karena aku terlalu menutup diriku dari dunia luar yang bahkan tak pernah aku coba untuk membukanya sendiri. Terlalu banyak ketakutan yang menahanku untuk pergi dari zona nyaman ini. Aku selalu merasa kosong bahkan disaat banyak orang disekelilingku dengan begitu perhatian dan menaruh kasih sayang tulus padaku. Apa hanya aku makhluk yang tidak pandai bersyukur?  Rasanya sudah berulang kali aku terjebak dengan situasi ini t...

Ada Kalanya

 Ada kalanya memang, mungkin seharusnya kita sendirian. Tenang dalam keheningan masing-masing lalu merenungi segala kejadian yang telah terjadi dalam hidup ini. Apakah sudah tepat perbuatanku hari ini? Apakah kata-kataku keterlaluan? Apakah aku terlalu baik kepada orang lain? Apakah aku bisa menghadapi semua yang terjadi dan apakah aku bisa melaluinya dengan tegar tanpa memohon kepada siapapun untuk menolong. Ada kalanya, perasaan itu begitu membuncah, begitu menggembirakan sehingga aku terlena dalam kenikmatannya. Namun tak jarang juga tiba-tiba semuanya berbalik menjadi kesengsaraan dan malapetaka yang begitu menyakitkan. Aku menyadari bahwa betapapun besar usaha yang aku lakukan untuk membahagiakan orang, tapi aku akhirnya tidak mampu. Karena pada kenyataannya setiap kita butuh pengakuan diri.  Apa yang aku lakukan saat ini, tidak bisa dibilang egois karena keinginanku jelas. Aku memang ingin diakui dan dihargai. Tapi begitu aku memiliki perasaan ingin ditinggikan, maka aku...

Kebebasan

Masih banyak hal di dunia ini yang aku tak tahu maknanya apa.  Kenapa kita harus berjalan kesana, menempuh langkah yang sulit dan panjang, kenapa semua orang menginginkan kekayaan dan kejayaan?  Aku merasa bahwa diriku ini masih sangat kecil dan 'polos', yang berdiri diantara kerumunan orang dewasa yang selalu mencari-cari hal baru untuk dilakukan.  Dunia begitu cepat berubah, lebih cepat dari apa yang aku bayangkan, dan dengan begitu kejam.  Bahkan kadangkala orang dewasa pun tak bisa memahaminya dan menjelaskan alasannya kenapa.  Banyak orang saling berbondong,berlari dan acuh terhadap lingkungan sekitar.  Sesekali terbesit dikepala ini  " Apa sih yang kalian cari sebenarnya? Untuk apa kalian melakukan semua itu ?"  Rasanya ketenaran hanya akan bertahan sementara saja, lalu digantikan dengan yang baru dan begitu seterusnya terulang lagi.  Semuanya berkembang, berganti, lalu menghilang.  Inikah yang dinamakan masa kejayaan?  Tidak ...

Kenapa Aku?

Rasanya hanya sattu kalimat itu yang terus terngiang di kepalaku saat ini. Saat aku merasa mendapatkan mimpi buruk, saat aku merasa tak bisa mengatasinya sendiri, saat aku butuh kekuatan dari orang sekitarku untuk bertahan dari ini. Perasaan ini sungguh menyesakkan dada. Sakit yang tadinya tidak terasa menjadi seolah memuncak. Kenapa aku? Seolah-olah aku menolak untuk mendapatkan rasa sedih, Menolak untuk bilang bahwa aku tidak baik-baik saja. Berjam-jam mengeluarkan air mata pun rasanya percuma, hanya sakit kepala yang akhirnya menghantui malamku. Overthinking lagi... Aku lagi-lagi harus berusaha menenangkan diriku yang bahkan tidak bisa tenang. Mencoba mengatur napas berkali-kali, namun tetap tidak beraturan. Kenapa aku? Saat aku sudah merasa baikan dari masalah yang lalu, saat aku sudah berdamai dengan keadaan yang memuakkan, saat aku baru saja menyemangati orang lain untuk bersabar, menikmati hidup.  Lalu ini yang kemudian aku dapatkan.

Mengerti Menjadi Dewasa (?) Part II

Andai waktu bisa berputar, aku ingin melihat kembali segala proses yang telah aku lewati dari aku lahir di Bumi, mulai menangis, kemudian mulai merangkak, berjalan, dan berbicara. Aku merindukan diriku yang kecil yang pertama kalinya masuk sekolah dan merasa insecure. Aku merindukan diriku yang akhirnya menemukan sahabat pertama kalinya, mulai mengalami perdebatan dengan teman dan melalui rasa suka dengan lawan jenis.  Aku merindukan saat dulu aku tertawa dengan lebar bersama sahabat-sahabatku, aktif mengikuti kegiatan di luar rumah, mersakan menjadi remaja yang sering bertengkar dengan orang tua, rindu menjahili teman dan guru di sekolah, harus masuk ke ruang BK karena nilai yang jelek, rindu diejek teman-teman karena ada yang naksir...  Aku juga masih ingat dimanaa dulu aku sekolah, pertama kalinya aku mendapatkan nilai yang bagus, pertama kalinya mendapat pujian dari guruku, mendapatkan surprise ulang tahun, ataupun moment minum expresso bersama teman-teman sampai malamnya ...

Kuatlah!

Lama tidak menulis, membuat jemari ini sedikit kaku. Bingung memilah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan hati dan pikiran saat ini. Ingin rasanya bercerita dengan gamblang seperti orang-orang di luar sana, ingin bisa mendapatkan suasana baru yang menyejukkan. Panas, sekarang rasanya seperti itu. Selain karena cuaca disini memang jarang hujan, aku duduk di ujung kasur, sembari berusaha mencari keheningan ditengah kebisingan, berusaha menikmati kesendirian yang lagi-lagi kurasakan. Dasar si mudah mengeluh! Sebenarnya aku berusaha untuk tetap percaya diri dalam menghadapi kehidupan. Meskipun kadang gontai langkahku karena merasa gagal untuk membenahi diri menjadi lebih baik dari tahun ke tahun. Rasanya aku selalu kembali ke titik dimana aku sangat mendramatisir kehidupanku. Apa karena peralihan usia?  Rasanya alasan itu terlalu klasik. Tadinya aku pikir, setelah dewasa aku akan baik-baik saja. Namun nyatanya tidak mudah menerima kenyataan dalam kehidupan ini. Berkali-kali aku ...

Healing

Malam ini aku memejamkan mata.  Sembari perlahan menarik nafas dan menghembuskannya.  Mencoba merasakan semua emosi yang ada dalam diriku,  Mencoba mencari apa yang sebenarnya aku takuti?  Apa yang menjadi beban pikiranku semalam hingga aku terjaga?  Hal-hal apa saja yang sudah aku syukuri?  Mengapa aku tidak bahagia?  Mengapa aku kesepian?  Mengapa aku merasa lelah?  Pertanyaan-pertanyaan yang seketika berkeliaran dalam pikiranku,  Apakah aku bisa mengontrolnya?  Aku pun juga melihat beberapa sosok orang yang ada disekitarku,  Yang karena kehadiran mereka aku bisa menikmati moment dalam  hidup ini.  Aku berusaha keras untuk berada di titik ini. Tapi apakah usahaku sudah semaksimal mungkin?  Mengapa aku terus meragukan diriku sendiri?  Mengapa aku begitu tidak percaya diri?  Aku butuh waktu untuk bisa menjawabnya.