Posts

Hal yang Baru Aku Tahu

Ketika sudah menikah, aku baru tahu rasanya sepi.  Dulu saat banyak anggota keluarga di rumah, kami jarang melakukan obrolan dari hati ke hati. Tapi sekarang aku merasa obrolan itu sangat diperlukan dalam membangun keluarga yang utuh. Ketika sudah menikah, aku baru tahu bagaimana cara tanggung jawab sebagai pasangan. Aku harus tahu kapan waktunya bermain, bekerja, lalu masih harus membagi waktu untuk mengerjakan kewajibanku sebagai ibu rumah tangga. Cucian piring dan pakaian kotor, tumpukan pakaian bersih menggunung yang belum disetrika, dan segala pekerjaan rumah yang kecil dan berulang-ulang harus dikerjakan.  Ketika sudah menikah, aku baru tahu rasanya kelelahan dan kesakitan tapi harus cepat bangkit. Aku tak bisa menutup mata dan beristirahat dengan tenang kalau masih melihat kondisi rumah berantakan, tetap harus memasak dan melayani diri sendiri dengan tegar ditambah melayani makhluk hidup yang di dalam rumah dalam segala kondisi. Ketika sudah menikah, aku baru tahu rasan...

Menuju kepala 3

          Hari ini 24/10/25 aku kehilangan handphone. Foto, video, dan semua catatan penting di HP raib. Sebenernya aku gak terlalu sedih karena HP itu hilang. Karena emang HPnya juga udah lemot, sering error, baterainya udh lemah + carger rusak, ditambah lagi penyimpanannya udh penuh. Jadi aku bener-bener ikhlas. Cuma aku harus beli HP baru aja jadi perlu keluar 2jt, sedangkan sebulan lalu baru aja ngambil tablet yg cicilannya masih berjalan. Jadi double cicilan. Tapiii, baiknya Bapak aku malah dengan kesadaran penuh mentransfer uang buat beli HP itu. Jadi merasa terharu dan malu kenapa aku bisa se-teledor itu. Jadi nyusahin orang tua. Bapak aku tu ya bener-bener bikin melow banget. Terutama karena aku udah ga serumah lagi, dia suka menunjukkan kerandoman yang bikin aku malah jadi kayak "Aaaaaaa, I miss youuuu...." kasih sayangnya bukan lewat kata-kata tapi langsung bertindak yang membuat aku jadi sangaaat amaaat melow. Bapak itu orang yang sangat hangat (...

Orang tua

Ternyata benar ya, kasih sayang ortu itu luar biasa banget. Mau anaknya udah sebesar apapun, tetep sayangnya gak pernah luntur.  Itu bener bener aku alamin saat ini, di usiaku yg hampir mau kepala 3, tapi cinta dan perhatian mereka tetep kayak aku usia anak-anak. Aku sakit dicemasin, aku luka diobatin, aku nangis ditenangin. Sangat senang dan sejuk di hati. Aku ingat bagaimana khawatirnya mereka saat aku jatuh, atau merajuk karena kesakitan, atau kecewa, atau ketika semua hal tidak berjalan sesuai keinginanku.. Mereka selalu tahu cara menenangkan dan membuatku pulih kembali. Semoga mama papa sehat selalu ya.

Teman Penpal

 Dulu saat aku pernah diberi tantangan mengajar sebagai guru inggris, aku mati-matian mikir bagaimana bisa? Basic pendidikan aku mengajar SD non bidang studi inggris. Tapi bersyukurnya waktu itu ada semacam kelas kursus yg akhirnya mau ga mau, bisa gabisa yaa belajar juga. Waktu itu ada tugas yang dimana kita harus ngobrol sama teman baru di applikasi Panpal yang dimana disana kita bisa terhubung sama ratusan bahkan ribuan pengguna lain antar negara. Menurut aku itu keren sih! Mereka mungkin disana bukan cuma sekedar belajar bahasa, tapi cari koneksi ataupun kerja. Nahh disitulah keingintahuanku membabi buta, aku mengajak beberapa orang random untuk chatting dan ada satu orang dari Taiwan yang klop banget nih sama aku, dan akhirnya kita malah chatting teterusan, sampai tugas itu beres malah! 🀣 Kerandoman itu malah terus berlanjut, sampe aku pindah chat ke facebook dan instagram. Kita berteman dari 2019 sampai sekarang. Dari kita sama-sama single sampai married, cerita keseharian, ...

Perasaan Lucu

Lucunya saat menjadi dewasa, saat mendengar orang lain bercerita pengalamannya rasanya seperti djavu.   Pikiranku langsung melayang ke masa lalu yang dimana aku juga pernah mengalami hal serupa, aku juga pernah ada di posisinya itu.  Aku pernah merasakan jatuh cinta yang membutakan mata, pernah menangis tersedu-sedu karena hal hal sepele. Pernah kecewa dan overthinking sampai gak bisa lagi mendengar dan melihat kebaikan yang sudah terjadi. Aku hanya fokus pada perasaan sakitnya, pada perasaan dukanya. Padahal semua itu pun akan mudah berlalu. Semua kejadian, pengalaman dan perasaan itu yang menguatkan dan menumbuhkan aku hingga menjadi diriku yang sekarang. Saat mendengarnya dari orang lain, rasanya lucu. Bukannya tidak berempati pada perasaan orang, tapi justru aku tersenyum karena aku melihat cerminan diriku di orang itu.  Teruntuk aku yang dulu anak-anak, terima kasih sudah selalu ceria dan mau berteman dengan siapa saja. Kamu memang istimewa sejak mulanya.  Teru...

Teman Dewasa

Sebenernya aku rasa, saat kita mulai beranjak dewasa, sangat beruntung sekali jika kita punya seorang teman yang mau mendengarkan dengan tulus segala perasaan, keluh kesah, dan uneg-uneg kita.  Teman yang tanpa judging , tidak penah mencap apa yang kita ceritakan, tidak juga merasa hal itu mungkin sesuatu yang sepele, atau tidak juga mengabaikan apa yang menjadi RASA kita saat ini.  Sulit loh, menghadapi dunia yang begitu keras dan dingin seperti sekarang. Lebih sulit lagi kalau kita malah dihantui rasa kesepian, dan gak ada tempat bersandar sama sekali. Pasti rasanya akan semakin berat jika apa yang kita rasakan hanya dianggap sebagai angin lalu, atau dianggap remeh. Perasaan itu lama-lama kelamaan akan membentuk perasaan negatif  di dalam diri kita. Beruntung jika aku punya teman itu. Bukan perihal agar selalu dibela, tetapi dukungan dari seorang manusia saja, bisa memberikan kekuatan yang tanpa batas. Membuat kita bisa melihat hari yang baik, dan menaruh harapan baru ...

JURNAL DIRI

Saya baru sadar bahwa, saya hanya selalu merasa ketakutan . Saya takut tidak lagi didibutuhkan, tidak lagi dianggap, tidak lagi menjadi penting bagi orang-orang yang selama ini saya cintai. Saya begitu menggantungkan hidup saya sepenuhnya pada orang di sekeliling saya, sehingga pada akhirnya saya memaksa mereka untuk tetap tinggal disini, padahal sebetulnya mereka sudah tidak bisa lagi disini. Mereka juga punya mimpi, mereka punya hal-hal yang mereka inginkan, mereka punya kehidupan lain yang di dalamnya bukan hanya ada saya.  Saya betul-betul takut dilupakan dan dibuang . Saya selalu mementingkan ego diri sendiri, sehingga saya telah mengkesampingkan kebahagiaan orang yang saya cintai. Saya pikir dengan hadirnya diri saya itu sudah cukup. Ternyata tidak semua hal semudah itu, dan tidak semua hal perlu ada saya. Setiap harinya ada jiwa yang harus dihidupi, setiap harinya ada orang lain yang juga berjuang dengan cara mereka masing-masing untuk bisa bahagia juga. Setiap hari ada ...